Nov 29, 2023

Bagaimana Menemani Sekolah Binaan yang Menerapkan IKM?

Bagaimana Menemani Sekolah Binaan yang Menerapkan IKM?

 

Latar Belakang

Mengokohkan Peran Pengawas Sekolah

Implementasi Kurikulum Merdeka di Indonesia adalah salah satu inisiatif penting dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21. Kurikulum Merdeka bertujuan untuk meningkatkan relevansi, kreativitas, dan kompetensi murid dalam menghadapi tuntutan zaman yang terus berkembang. Dalam konteks ini, peran pengawas sekolah sangatlah penting dalam memastikan keberhasilan implementasi kurikulum Merdeka di sekolah binaan masing-masing.

Kegamangan Sekolah Binaan dalam Menerapkan IKM

Beberapa sekolah mungkin memiliki pemahaman yang terbatas tentang konsep dan prinsip yang mendasari IKM. Kurikulum Merdeka menekankan pendekatan berpusat pada murid, pengembangan kreativitas, dan relevansi kontekstual, yang mungkin berbeda dengan pendekatan yang biasanya digunakan oleh sekolah. Kurangnya pemahaman tentang konsep ini dapat menyebabkan kebingungan dalam menerjemahkan dan menerapkan IKM dalam praktik sehari-hari di sekolah.

Kumpulan Praktik

Praktik 1: Membangun Pemahaman yang Mendalam tentang Kurikulum Merdeka

Apabila pengawas sekolah bukan narasumber Kurikulum Merdeka dan belum berkesempatan mendapatkan pelatihan PKP Pengawas dalam Sekolah Penggerak, maka pengawas sekolah dapat mempelajari Topik Kurikulum Merdeka yang tersedia di PMM. Dengan pemahaman yang mendalam, pengawas sekolah dapat memberikan arahan yang jelas dan mendukung sekolah dalam menerapkan IKM.

Praktik 2: Mempelajari Rekomendasi Rapor Pendidikan

Sangat penting untuk memahami hasil rekomendasi dari platform rapor pendidikan sekolah. Pengawas sekolah bersama kepala sekolah dan tim pengembang sekolah dapat mencermati poin-poin rekomendasi yang dianggap penting untuk ditindaklanjuti dalam bentuk program. Selanjutnya memilih dan menetapkan program-program yang mana yang dapat diselaraskan dalam implementasi kurikulum merdeka di sekolah.

Praktik 3: Perencanaan Pendampingan terhadap Kepala Sekolah

Pengawas sekolah perlu melakukan perencanaan pendampingan terhadap kepala sekolah dengan melakukan percakapan untuk memetakan komitmen perubahan kepala sekolah, lalu pengawas sekolah dapat menentukan strategi dan metode pendampingan. Pengawas sekolah juga melakukan pendampingan terhadap penyusunan RKAS dan RKT pada sekolah yang didampinginya.

Praktik 4: Memberikan Pelatihan dan Pendampingan Kepada Guru

Pengawas sekolah dapat memberikan pelatihan dan pendampingan sesuai kebutuhan dan permintaan kepala sekolah. Apabila pengawas sekolah tidak memiliki kompetensi sebagai narasumber, maka dapat melibatkan narasumber lain. Materi esensial dalam pelatihan adalah tentang Capain Pembelajaran, analisis Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran, modul ajar, prinsip pembelajaran terdiferensiasi, asesmen dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Praktik 5: Mendorong Terbentuknya Komunitas Belajar dalam Sekolah

Pengawas sekolah dapat menyarankan kepala sekolah untuk membentuk komunitas belajar dalam sekolah. Tempat bagi kepala sekolah dan guru secara berkala melakukan pertemuan rutin. Adanya komunitas dapat saling asah, asih, dan asuh dalam menciptakan suasana yang kondusif untuk bersama-sama meningkatkan kompetensi diri dan muaranya. Dengan ini dapat memastikan meningkatnya layanan pendidikan yang berpusat kepada murid, murid, dan murid.

Praktik 6: Pendampingan dan Memberikan Umpan Balik

Kegiatan pendampingan dapat dilaksanakan dengan mengunjungi sekolah setiap bulan. Ini dapat dilakukan mulai dari proses perencanaan berbasis data dan pelaksanaan program kerja sekolah. Dalam proses pendampingan pengawas sekolah dapat memberikan umpan balik yang konstruktif kepada kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan untuk mengidentifikasi kekuatan dan area pengembangan, serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan yang diperlukan.

Refleksi Hasil dan Dampak

Mari Kita Refleksikan Bersama

Penting untuk melakukan refleksi bersama setelah menyelesaikan setiap kegiatan. Refleksi dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya menggunakan mentimeter untuk refleksi yang dilakukan secara daring dan post it untuk kegiatan refleksi luring, atau kombinasi keduanya. Pengawas sekolah dapat memilih salah satu teknik refleksi. Teknik refleksi favorit penulis adalah dengan menggunakan teknik 4 F (Feeling, future, fact, finding).

Murid yang Berbahagia

Satuan pendidikan yang sudah mendapatkan pemahaman utuh akan kurikulum merdeka akan mempunyai pendekatan yang holistik dan memperhatikan kemajuan murid secara menyeluruh. Manfaat yang akan dirasakan oleh murid adalah terciptanya iklim belajar yang kondusif disekolah, dimana mereka merasa berbahagia untuk belajar, dan selalu tertantang menemukan hal-hal baru dalam serangkaian pengalaman belajar yang berharga.

Guru yang Antusias dan Gembira

Guru yang sebelumnya mengajar dengan cara biasa, terungkit menjadi guru pembelajar. Guru yang berkontribusi pada menciptakan suasana sekolah yang positif. Ketika guru menunjukkan semangat dan kegembiraan dalam mengajar, energi positif ini menular ke seluruh lingkungan sekolah. Guru yang antusias dapat menjadi katalisator untuk membangun iklim sekolah yang inspiratif, bersemangat, dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan murid secara menyeluruh.

Tips dari Saya

Jangan Berhenti Belajar

Pengawas Sekolah harus terus semangat belajar dari berbagai sumber, agar dapat menemani sekolah binaannya dalam melakukan transformasi Pendidikan menuju murid-murid Indonesia yang selamat dan bahagia.

Menjadi Teladan dalam Memanfaatkan PMM

Jadikan PMM sebagai sumber belajar yang terus dapat dieksplorasi. Ibu Bapak Pengawas sekolah harus memberikan contoh teladan untuk terus bersemangat mempelajari berbagai topik tentang Kurikulum Merdeka di PMM.

Bagaimana Menumbuhkan Minat Literasi Murid dengan Pohon Literasi?

Bagaimana Menumbuhkan Minat Literasi Murid dengan Pohon Literasi?

 

Situasi/Tantangan

Rendahnya Kemampuan Literasi Murid

Kemampuan literasi murid disekolah kami cukup rendah dibuktikan dengan nilai literasi dibawah kompetensi minimum pada rapor pendidikan, 53,85% murid hanya memperoleh nilai dasar pada kompetensi mengevaluasi dan merefleksi isi teks, selain itu murid juga tidak percaya diri dalam menyampaikan pemahaman atau interpretasi terhadap bacaan baik itu melalui media tulisan maupun penyampaian langsung secara lisan.

Minim Inovasi Guru dalam Mendorong Literasi Murid

Peningkatan kemampuan literasi murid sering dipahami sebagai tanggungjawab guru bahasa saja, sehingga guru lain tidak merasa bertanggungjawab untuk mendorong dan berinovasi dalam meningkatkan kemampuan literasi murid. Padahal dibutuhkan peran komunitas untuk menumbuhkan budaya literasi baik bagi murid maupun guru sendiri. Perlu ada inovasi untuk medorong program literasi yang menjadi bagian dari kegiatan intrakurikuler dikelas

Aksi

Langkah 1: Membuat Pohon Literasi di Kelas dan Laboratorium

Pojok baca sebagai upaya menghadirkan lingkungan fisik kaya teks bukanlah hal baru, hampir disetiap ruangan belajar terdapat pojok baca tetapi juga sering ditemukan pojok baca sepi aktivitas dan terbengkalai. Pohon literasi berupa gambar pohon dan ranting tanpa daun di pojok baca akan digunakan sebagai media untuk menggugah minat literasi murid untuk menumbuhkan daun literasi, banyak daun akan menghadirkan bunga dan buah literasi.

Langkah 2: Kesepakatan Kelas

Pada pertemuan pertama, guru menjelaskan masalah dan tantangan rendahnya kemampuan literasi murid yang melahirkan kesepakatan kelas. Guru dan murid wajib membaca 3 buku dalam satu semester, 2 buku non fiksi dan 1 buku fiksi. Kesepakatan selanjutnya, menyiapkan waktu 15 menit bercerita pada setiap pembelajaran untuk meriview hasil buku, 2 orang murid akan membacakan reviu buku yang dibacanya pada setiap minggu.

Langkah 3: Tumbuhkan Pohon Literasi

Minggu berikutnya diadakan kegiatan 15 menit bercerita, saatnya menumbuhkan satu daun literasi. Murid diminta untuk menuliskan judul buku yang akan dibaca dan nama penulisnya pada kertas post it kemudian menempelkan pada cabang-cabang yang dipilih, setiap murid akan memiliki cabang masing-masing.

Langkah 4: Suburkan Pohon Literasi

Saatnya menyuburkan pohon literasi. Lanjutkan kegiatan 15 menit bercerita pada minggu-minggu berikutnya. Murid diminta untuk menuliskan interpretasi atau makna yang didapat dari buku yang telah dibaca pada post it, kemudian menempelkan pada cabang-cabang masing-masing. Satu atau dua orang murid diberikan kesempatan untuk berbicara didepan kelas menyampaikan reviu buku yang dibacanya, jika waktu cukup dapat diadakan diskusi singkat terkait.

Langkah 5: Menanti Bunga dan Buah Pohon Literasi

Guru melakukan observasi dan evaluasi terhadap setiap cabang pohon literasi, guru dapat memberikan catatan sebagai bentuk apresiasi atau motivasi berupa bunga dan buah pada cabang-cabang yang subur.

Refleksi Hasil dan Dampak

Menumbuhkan Budaya Literasi pada Murid

Sebelum kegiatan Tumbuhkan Pohon Literasi, ketika murid ditanya buku apa yang pernah kalian baca? Sebagian besar mereka tergagap atau bisa dikatakan belum pernah membaca satu bukupun selain buku pelajaran, sekarang mereka telah membaca minimal 3 buku persemester. Selain itu, Murid juga lebih berani menulis dan mengungkapkan pendapat didepan kelas dalam kegiatan reviu buku

Menjadi Contoh Praktik Baik bagi Guru Lainnya

Dibutuhkan peran dari seluruh pemangku kepentingan di sekolah untuk meningkatkan kemampuan literasi murid, kegiatan ini menjadi contoh praktik baik sehingga beberapa guru terinspirasi untuk melakukan hal yang sama dalam pembelajaran.

Tips

Konsistensi adalah Kunci

Pendidikan dan pengajaran adalah kegiatan berkelanjutan, program sebaik apapun jika tidak dilakukan secara rutin tidak akan berdampak. Sebaliknya sesederhana apapun programnya jika dilakukan secara konsisten Insya Allah akan memberikan dampak bagi murid, guru dan sekolah. Menumbuhkan Pohon Literasi butuh konsistensi untuk terus menumbuhkan daun-daun literasi pada setiap cabang, jangan biarkan daun gugur tanpa berganti dengan daun baru.

Jika Ingin Menempuh Jarak yang Jauh, Berjalanlah Bersama

"Jika ingin berjalan cepat berjalanlah sendiri, namun jika ingin menempuh jarak yang jauh berjalanlah bersama"


Meningkatkan kemampuan literasi murid tidak dapat dilakukan oleh hanya satu orang guru saja, sehingga dibutuhkan peran dari guru lainnya juga. Baik melalui program pohon literasi maupun program lain yang sejenis. Makin banyak kegiatan serupa yang dilaksanakan dikelas, maka makin banyak ruang literasi yang ditersedia untuk murid.

loading...