Tip Jitu Pilih Investasi yang Tahan Krisis Ekonomi

Krisis ekonomi bisa datang tak terduga. Dalam kondisi krisis, finansial negara akan goyah. Karena itu, memilih investasi yang tahan krisis butuh strategi jitu.
Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi pada 1998, 2008, dan 2015. Salah satu tanda utama terjadinya krisis adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Nilai tukar rupiah pernah mencapai Rp16.650 pada tahun 1998, dan Rp12.650 pada tahun 2008. Sementara pada tahun 2015 yang disebut sebagai krisis mini, nilai tukar rupiah tercatat Rp14.123.
Untuk mengantisipasi hal semacam itu, investasi bisa menjadi salah satu cara yang jitu untuk berjaga-jaga menyelamatkan finansial pribadi ketika terjadi krisis. Namun, tak semua jenis instrumennya bisa tahan banting ketika menghadapi krisis.
Pilihan investasi dan krisis ekonomi

Tujuan berinvestasi adalah mengamankan dan mengembangkan dana serta memenuhi tujuan di masa depan. Ketika krisis melanda, investasi bisa jadi penyelamat, dengan catatan, instrumen investasi yang dipilih sudah tepat. (Baca: Cara Menghadapi MEA)
Agar dana tetap aman ketika krisis terjadi, pilihlah instrumen investasi yang tidak mudah terpengaruh dengan aneka gejolak ekonomi. Berikut ini 4 jenis investasi yang terbilang tahan banting menghadapi krisis ekonomi.
Produk-produk keuangan syariah terbilang lebih tahan banting di tengah krisis ekonomi jika dibandingkan produk-produk keuangan konvensional. Karena pada dasarnya, sistem keuangan syariah Islam melarang adanya spekulasi atau gharar. Dengan begitu, akan meminimalisir adanya spekulasi yang berlebihan yang memicu kerugian.
Contohnya saja pada periode September 2014 hingga September 2015, saat ada guncangan di pasar modal, LQ 45 yang merupakan indeks saham pilihan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan 22%. Sementara Jakarta Islamic Index (JII) mengalami penurunan 21%.
Secara global, sektor keuangan Islam mengalami kenaikan. Pada 1996, total asetnya US$137 miliar, dan pada 2013 angkanya mencapai US$1,8 triliun. Dan pada 2018, jumlahnya telah mencapai US$4,5 triliun.
Seperti telah disebutkan di atas, salah satu tanda terjadinya krisis adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Bagaimana jika melawan krisis dengan berinvestasi pada dolar?
Terdapat berbagai macam cara untuk mereguk nikmatnya keuntungan dari investasi dolar, salah satunya cara tradisional yaitu membeli di bank dengan harga rendah dan menjualnya kembali saat harga tinggi.
Apabila ingin membeli dolar, carilah tempat yang resmi yaitu bank dan money changer yang memiliki sertifikat. Kita juga perlu memperhatikan kondisi ekonomi agar tahu kapan saatnya membeli dan menjual.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam investasi pada dolar yaitu cara menyimpannya. Simpanlah dolar dengan sangat hati-hati karena jika kondisi fisiknya kurang baik, maka nilainya bisa berkurang. Sebaiknya jangan menyimpan dolar di rumah, sewalah safe deposit box di bank agar lebih aman.
Investasi logam mulia ,seperti emas, juga menjadi pilihan investasi yang tahan banting menghadapi masa krisis. Sebaiknya, berinvestasi dalam bentuk emas batangan bukan perhiasan agar hasilnya lebih maksimal.
Bahkan, investasi emas batangan tergolong minim risiko. Harganya terbilang stabil dan terus mengalami kenaikan. Artinya, emas tidak mudah terganggu oleh fluktuasi kondisi ekonomi. Pada tahun 2.000, harga emas di Indonesia per gram sekitar Rp72.000. Dan, pada 2010 harganya sudah mencapai sekitar Rp500.000 per gram. Saat ini, harga per gram sudah melebihi Rp600.000.
Emas juga sangat cocok sebagai instrumen investasi jangka panjang. Dengan kata lain, emas mampu jadi pelindung harta kekayaan dalam jangka panjang dari risiko penurunan nilai alias melawan inflasi.
Investasi emas saat ini semakin mudah dan bisa dimulai dengan modal minim. Misalnya saja melalui program Tabungan Emas Pegadaian, kita bisa berinvestasi emas mulai dari Rp5.000-an saja.
Koin emas dinar pada dasarnya sudah berfungsi sebagai mata uang sejak ribuan tahun lalu. Nilai mata

No comments:

Post a Comment